Malam Siwaratri bagi sebagian orang mungkin hanya tentang ritual menahan kantuk atau sekadar rutinitas tahunan yang berulang. Namun, bagi kami yang berkumpul pada Sabtu malam itu, ada sesuatu yang berbeda yang bergejolak di batin. Di tengah kesibukan dunia modern yang sering membuat penat, kami bertanya-tanya: bagaimana caranya tetap tenang dan berada di jalan yang benar saat hidup sedang terasa berat dan menghimpit? Bagi kami, malam ini adalah perjalanan mencari jawaban di balik sunyinya malam.
Perjalanan spiritual kami dimulai sore hari ketika matahari mulai turun, tepat di pelataran Pura Samuan Tiga, Bedulu. Memilih tempat ini bukan tanpa alasan. Samuan Tiga adalah simbol persatuan besar di Bali, tempat di mana perbedaan sekte-sekte masa lalu pernah disatukan dalam damai. Kami datang ke sana dari berbagai elemen—Karang Taruna, Peradah, hingga KMHDI. Sebelum melangkah lebih jauh ke puncak bukit, kami memilih untuk bersimpuh bersama di sini, menyatukan frekuensi pikiran agar perjalanan ini memiliki landasan yang kokoh.
Di bawah rindangnya pohon-pohon tua di pelataran pura, kami membasuh wajah dengan tirta suci, mencoba menenangkan pikiran yang mungkin masih membawa sisa-sisa urusan duniawi dari rumah. Di Samuan Tiga, kami belajar bahwa sebelum kita mencoba menyelesaikan masalah besar di luar sana, kita harus berdamai dulu dengan diri sendiri dan orang-orang di sekitar kita. Sembahyang di sini adalah cara kami "permisi" kepada leluhur dan alam semesta, memohon agar perjalanan malam ini bukan sekadar begadang tanpa makna, melainkan sebuah pendakian batin yang membuahkan hasil bagi karakter kami sebagai pemuda. Di sinilah komitmen kami diuji, di mana beberapa dari kami juga mulai melaksanakan Upawasa, menahan haus dan lapar sebagai bentuk pengendalian diri yang tulus.
Mendaki Bukit dan Duduk di Depan Goa yang Gelap
Setelah energi persatuan terkumpul di Samuan Tiga, rombongan bergerak menuju Pura Bukit Dharma Durga Kutri, Desa Buruan. Di kaki bukit yang rimbun, kami tidak langsung melangkah untuk sembahyang. Kami duduk melingkar dalam sebuah Dharma Tula atau diskusi santai yang jauh dari kesan kaku. Di bawah temaram cahaya lampu, kami mulai bicara jujur. Kami bicara tentang tantangan nyata yang dihadapi pemuda saat ini—mulai dari sulitnya mencari kerja, tekanan sosial, hingga urusan mental yang seringkali tertekan. Diskusi ini menyadarkan kami bahwa "Dharma" atau jalan kebenaran bukan cuma teori di buku-kitab suci, tapi tentang keberanian kita untuk tetap menjadi orang baik meski keadaan sedang sulit.
Tepat tengah malam, saat alam mulai memasuki kesunyian yang paling dalam, tantangan fisik yang sesungguhnya dimulai. Kami mulai menapaki anak tangga demi anak tangga menuju puncak Bukit Dharma. Di tengah kegelapan, setiap langkah terasa begitu berat. Nafas mulai tersengal dan kaki mulai pegal—sebuah gambaran nyata bahwa perjuangan hidup memang tidak ada yang instan dan seringkali melelahkan. Apalagi bagi mereka yang sedang menjalankan Upawasa, pendakian ini menjadi ujian fisik dan mental yang berlipat ganda. Namun, rasa lelah itu seolah luruh saat kami sampai di puncak. Angin malam yang kencang di ketinggian bukit seolah menyapu segala beban pikiran yang kami bawa dari bawah.
Dari puncak, kami bergerak turun sedikit menuju area yang lebih sunyi: depan mulut Goa. Jalannya mengecil, diapit oleh tebing batu dan pepohonan yang rimbun. Hanya kegelapan murni yang menyambut kami di sana. Di depan mulut goa yang pekat itulah, kami kembali bersimpuh. Kami duduk diam, menutup mata, dan bermeditasi selama lima menit. Hanya suara angin dan detak jantung sendiri yang terdengar di tengah sunyinya malam. Dalam kegelapan total itu, kami dipaksa untuk benar-benar melihat ke dalam diri, tanpa ada gangguan visual dari luar.
Ternyata, tempat ini memiliki kaitan sejarah yang sangat kuat dengan sosok Ibu Mahendradatta, seorang ratu yang dikenal sangat tangguh dalam menghadapi berbagai kesulitan hidup di masa lalu. Meski saat meditasi kami tidak membahas sejarah beliau secara akademis, namun getaran di depan goa itu seolah memberi pesan tanpa kata: jangan pernah takut dengan "kegelapan" atau masalah hidup yang sedang menghadang. Karena di dalam titik paling gelap itulah, cahaya batin kita justru bisa terlihat paling terang jika kita tenang. Kita belajar bahwa kesulitan hidup bukan untuk dihindari, tapi untuk dihadapi dengan ketenangan dan keteguhan iman.
Harapan Baru dan Semangat Kebersamaan di Pagi Hari
Meski malam semakin larut dan fisik mulai meminta istirahat, rasa kantuk justru seolah hilang setelah kami bermeditasi di depan goa tadi. Energi alam seperti mengisi ulang semangat kami. Kami tidak langsung pulang, melainkan melanjutkan obrolan tentang bagaimana kami sebagai pemuda bisa saling bantu dan bersinergi untuk memajukan daerah kita. Kami bicara tentang pengabdian, tentang kepedulian sosial, dan bagaimana organisasi pemuda bisa menjadi rumah yang nyaman bagi generasi muda lainnya. Tanpa kopi atau asupan makanan bagi yang berpuasa, obrolan kami justru terasa lebih jernih dan fokus pada esensi perjuangan pemuda.
Menjelang pukul tiga subuh, saat udara sedang dingin-dinginnya dan frekuensi alam berada dalam titik paling murni, kami kembali melakukan persembahyangan dan meditasi tahap kedua. Ini adalah momen yang paling berat; tubuh terasa dingin dan mata terasa sangat berat. Namun, di sinilah kesabaran dan keteguhan batin kami benar-benar diuji. Kami saling menyemangati satu sama lain hanya lewat pandangan mata dan kata-kata motivasi, terus menjaga kesadaran agar tetap Jagra. Di sinilah makna pengendalian diri terasa begitu nyata; mengalahkan rasa lelah dan lapar demi sebuah ketulusan dalam memuja Sang Pencipta.
Yang paling mengharukan malam itu adalah melihat pemandangan di mana tidak ada lagi sekat antar organisasi. Teman-teman dari Karang Taruna, Peradah, KMHDI, dan pemuda lainnya duduk berdampingan dengan tawa kecil dan doa yang sama. Kami sadar bahwa tantangan ke depan terlalu luas untuk dihadapi sendirian. Kami butuh tangan-tangan lain untuk bergandengan. Sinergi yang lahir di pelataran pura ini adalah hasil nyata dari perjalanan malam Siwaratri kami—sebuah persaudaraan yang lahir karena kami telah melewati kegelapan dan ujian fisik yang sama.
Tepat pukul enam pagi, matahari pertama mulai muncul dengan perlahan dari balik perbukitan Gianyar. Sinar hangatnya menyentuh ukiran batu kuno di Durga Kutri dan menyinari wajah-wajah kami yang tampak pucat karena lelah namun memiliki binar puas di matanya. Persembahyangan terakhir kami lakukan sebagai simbol kemenangan atas kegelapan diri sendiri. Kami melangkah pulang bukan hanya membawa sisa bau dupa yang menempel di baju, tapi membawa keyakinan baru yang tertanam jauh di dalam dada. Bahwa tantangan hidup mungkin akan selalu ada dan terasa gelap seperti jalan menuju goa tadi, namun selama kita mau melangkah bersama, tetap menjalankan pengendalian diri, dan menjaga kesadaran batin, maka fajar harapan akan selalu menyambut kita di ujung perjalanan. Malam Siwaratri telah usai, tapi komitmen kami untuk bergerak bersama baru saja benar-benar dimulai.